Kisah Miliarder yang Memiliki Perusahaan Sendiri Sejak Usia 14 Tahun

Kisah Miliarder yang Memiliki Perusahaan Sendiri Sejak Usia 14 Tahun – Jika sebagian besar anak usia 14 tahun masih meminta uang jajan pada orangtua, miliarder yang satu ini malah telah mendirikan perusahaan dengan keringat dan usahanya sendiri. Adalah Ivar Eric Tollefsen, pengusaha yang baru didaulat sebagai salah satu miliarder terkaya dunia versi Forbes yang sukses mendirikan perusahaan sendiri, Tollefsen Enterprise sejak usia sangat muda.

Baca juga : Inilah Kebiasaan Unik Jeff Bezos, Orang Paling Kaya Sejagat

Melansir laman Forbes, Senin (12/3/2018) jiwa pebisnis Tollefsen sudah muncul sejak dirinya masih kanak-kanak. Tanpa mengenyam pendidikan formal, sulung dari tiga bersaudara ini bekerja menjadi pengantar koran sejak usia 12 tahun.

Dua tahun kemudian, ia bangun pukul 3.30 setiap pagi, enam hari per minggu untuk mengantarkan koran. Dengan seluruh uang tabungannya, ia membeli sebuah stereo-system dan mulai melakukan pekerjaan sebagai DJ. Dia melakukan profesi otodidaknya tersebut di pesta-pesta sekolah di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Setelah mengumpulkan cukup uang dari pekerjaannya tersebut, Tollefsen lantas memutuskan untuk berhenti sekolah dan mencurahkan seluruh energinya untuk berbisnis.

“Saya bukan DJ yang hebat, tapi saya cukup baik dalam mengelola banyak hal,” katanya.

Di usia 14 tahun, Tollefsen mendirikan perusahaan sendiri bernama Tollefsen Enterprise yang menyewakan jasa DJ dan perlengkapan event. Terus berkembang, perusahaannya lantas meluas ke bidang bisnis pasokan dan konsultan pesta yang bertugas mendekorasi club.

Hebatnya, di usia 23 tahun, Tollefsen telah mampu mengakuisisi sebuah perusahaan investasi, Vest Invest dengan kesepakatan saham mencapai miliaran rupiah. Tollefsen mengaku tak ingat berapa jumlah tepatnya.

Sayangnya, tiga tahun kemudian, nilai saham perusahaannya anjlok dan ia kembali ke posisi nol. Meski begitu, pria berjiwa petualang ini tak pernah kehabisan ide.

Dia lantas menulis dan memublikasikan tiga buku tentang petualangannya mengarungi gunung-gunung di Antartika. Buku-buku tersebut laku keras di pasaran.

Pada 1994, dengan modal US$ 120 ribu atau Rp 1,65 miliar (US$ 1=Rp 13.783) dari hasil penjualan bukunya, dia membeli properti pertamanya.

Pembelian tersebut dilakukannya di saat yang tepat. Kala itu, harga real estate di Norwegia tengah anjlok lantaran krisis perbankan di awal 1990-an.

Dengan modal tersebut, dia lantas mengajukan pinjaman dan membeli gedung dengan 20 apartemen di pusat kota Oslo seharga US$ 820 ribu. Seiring dengan perkembangan bisnis propertinya, Toffelsen tak ragu untuk mengajukan pinjaman lebih guna membeli lebih banyak gedung.

Kini perusahaannya, Fredensborg AS dengan anak usaha, Heimstaden AB merupakan salah satu pemilik rumah sewa terbesar di Scandinavia. Perusahaan tersebut menyewakan 27 ribu apartemen di Norwegia, Swedia dan Denmark. Salah satu apartemennya di Oslo bahkan disewakan seharga US$ 1.500 atau Rp 20,6 juta per bulan.

Tollefsen mengaku tak bisa memprediksi ke mana arah bisnisnya nanti. Yang jelas, kini bisnisnya berada dalam posisi yang baik. Dia menganggap berbisnis sama halnya dengan menjelajahi gunung es.

“Butuh rencana dan persiapan yang luar biasa matang, serta kalkulasi risiko yang tepat, kemampuan adaptasi yang hebat dan tekad yang kuat untuk melakukan ekspedisi ke gunung-gunung es. Begitu juga bisnis,” terangnya.

Kini, di usianya yang ke-56 tahun, Toffelsen menjadi salah satu miliarder terkaya di dunia dengan total kekayaan mencapai US$ 1,25 miliar. Ini merupakan tahun pertamanya masuk ke jajaran bergengsi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *