Cara Unik 6 Orang Terkaya di Indonesia Memperoleh Kekayaannya

Cara Unik 6 Orang Terkaya di Indonesia Memperoleh Kekayaannya – Perjuangan dan usaha keras pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan. Kekayaan yang didapat oleh orang-orang sukses di Indonesia dan dunia adalah hasil dari kerja keras mereka yang tak sebentar. Pasang surut dalam usahanya sudah menjadi hal yang biasa terjadi dan keterpurukan itu malah bisa membawa mereka ke level yang lebih tinggi.

Baca juga : Daftar 5 Triliuner Indonesia yang Namanya Mungkin Belum Pernah Kamu Dengar dan Bisnisnya

Begitu juga dengan kekayaan yang diperoleh 6 pengusaha Indonesia ini. Tak jarang mereka harus mengalami banyak kegagalan dan harus kembali memulai dari nol. Siapa saja 6 orang tersebut dan bagaimana kisahnya? Yuk, simak ulasannya.

1. R. Budi dan Michael Hartono – Djarum Group

Tahun 1963, pabrik rokok kretek Djarum yang dibangun oleh Oei Wie Gwon habis terbakar dan perusahaan mengalami kerugian besar. Dalam keadaan yang tidak stabil ini, perusahaan Djarum diwariskan kepada dua anaknya, R. Budi dan Michael Hartono.

Di tangan Hartono bersaudara ini, Djarum tumbuh menjadi perusahaan besar di Indonesia dan mulai mengekspor rokok kreteknya ke luar negeri pada tahun 1972. Mereka juga tidak lupa berinovasi pada produknya dengan menghadirkan jenis rokok Djarum Filter dan Djarum Super. Keduanya pun laku keras di pasaran.

Kerajaan bisnis keluarga Hartono tidak hanya di bidang rokok saja. Di bawah Djarum Group, mereka melebarkan sayap ke bidang elektronik dengan memroduksi Polytron, membangun komplek bisnis di kawasan Hotel Indonesia, memiliki 51% saham Bank Central Asia (BCA), dan memiliki 65.000 hektar kebun kelapa sawit di Kalimantan Barat. Total kekayaan yang dimiliki oleh Hartono bersaudara ini mencapai USD 15.000 M, setara dengan 165 triliun rupiah.

2. Eka Tjipta Widjaja – Sinar Mas Group

Hanya menjadi lulusan sekolah dasar (SD) tidak membuat Eka Tjipta Widjaja patah semangat untuk memiliki kehidupan yang layak. Selepas tamat SD, ia memulai bisnis kecil dengan berjualan biskuit dan kembang gula. Namun sayang, bisnis kecil ini harus terhenti karena saat itu Indonesia tengah dijajah oleh Jepang.

Era Orde Baru menjadi awal kesuksesan Eka Tjipta dan kerajaan bisnisnya, Sinar Mas Group. Perusahaan awal Sinar Mas Group adalah PT Tjiwi Kimia yang bergerak di bidang produksi kertas. Kemudian dilanjutkan dengan membeli 10.000 hektar kebun kelapa sawit dan Bank Internasional Indonesia (BII) pada tahun 1982.

Saat ini, usahanya telah berkembang pesat di berbagai bidang. Sinar Mas Group menaungi perusahaan Asuransi Sinar Mas, Sinar Mas Land, Sinar Mas Pulp dan Kertas, serta telekomunikasi Smartfren. Jaringan yang dimiliki juga telah meliputi beberapa kawasan di Asia Tenggara. Total kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Eka Tjipta Widjaja ini mencapai USD 7.000 M, setara dengan 77 triliun rupiah.

3. Anthoni Salim – Salim Group

Berasal dari keluarga mapan, bukan berarti usahanya berjalan tanpa halangan. Salim Group yang menaungi PT Indomobil Sukses Internasional, PT BCA, PT Indocement Tunggal Perkasa, PT Indofood Sukses Makmur, dan PT Bogasari Flour Mills mengalami krisis pada tahun 1998. Anthoni Salim yang telah diberi kuasa oleh ayahnya untuk memimpin Salim Group menjual 3 dari 5 perusahaannya untuk menutupi hutang sebesar 52 triliun rupiah.

Dua perusahaan yang tidak dijual oleh Anthoni adalah PT Indofood Sukses Makmur dan PT Bogasari Flour Mills, yang juga merupakan 2 perusahaan terbesar di grupnya. Kedua perusahaan tersebut merupakan salah satu penghasil mie instan dan pemasok bahan baku makanan instan terbesar di dunia. Produk yang dihasilkan antara lain Indomie, Supermie, Simas Margarin, tepung Segitiga Biru, tepung Kunci Biru, tepung Cakra Kembar, dan minyak goreng Bimoli.

Keuntungan yang didapat oleh Salim Group dari 2 perusahaan ini sangat besar dan membuatnya menjadi orang terkaya ketiga di Indonesia dengan kekayaan sebesar USD 6.300 M, setara dengan 69,3 triliun rupiah.

4. Susilo Wonowidjojo – PT Gudang Garam

PT Gudang Garam yang saat ini dipimpin oleh Susilo Wonowidjojo merupakan perusahaan yang didirikan oleh sang ayah, Surya Wonowidjojo tahun 1958. Kesuksesan perusahaan ini tidak bisa dilepaskan dari cara Surya Wonowidjojo memperkenalkan bisnis pada anak-anaknya. Sejak remaja, Susilo telah dilibatkan dalam usaha keluarga ini, sebagai persiapan jika nantinya ia mendapat posisi yang lebih tinggi. Dan cara ini pun sukses menghasilkan perusahaan yang terorganisir dan terstruktur dengan baik.

Susilo Wonowidjojo dikenal sebagai orang yang adil, ulet, dan pekerja keras. Begitu adilnya hingga ia sangat selektif dalam memilih orang yang akan bekerja pada perusahaannya. Bahkan, anaknya sendiri pun jika tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, tidak akan diterima oleh perusahaannya.

Buah dari kerja keras memang tidak pernah sia-sia. Saat ini, Susilo Wonowidjojo didapuk sebagai orang terkaya keempat di Indonesia dengan kekayaan sebesar USD 5.300 M, setara dengan 58,3 triliun rupiah.

5. Chairul Tanjung – CT Corp

Kesuksesan sosok yang mendapat julukan “Si Anak Singkong” ini memang sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Chairul Tanjung memulai bisnisnya saat berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dengan membuka usaha fotokopi. Tak puas dengan itu, ia mulai merambah usaha konveksi, berjualan buku kuliah, membuka toko peralatan kedokteran dan laboratorium, hingga mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama rekannya. Namun, ternyata usahanya belum berhasil.

Setelah keluar dari PT Pariarti Shindutama, Chairul Tanjung membidik 3 bisnis inti untuk dijalankan, yaitu keuangan, properti, dan multimedia. Dari sini lah, ia mendirikan Para Grup, sekarang CT Corp, yang menaungi Mega Corpora, Trans Corp, dan PT CT Global Resource. CT Corp juga merupakan perusahaan yang membangun taman rekreasi indoor pertama di Indonesia, Trans Studio.

Saat ini, Chairul Tanjung tengah menjabat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia menggantikan Hatta Rajasa. Total kekayaan yang dimiliki olehnya mencapai USD 4.000 M, setara dengan 44 triliun rupiah.

6. Sri Prakash Lohia – Indorama Corporation

Pria keturunan India ini memilih untuk menjadi warga negara Indonesia dan menjalankan bisnis sebagai Raja Tekstil Indonesia dengan Indorama Corporation yang didirikannya. Awalnya, Indorama merupakan perusahaan yang memproduksi benang tapi saat ini produksinya sudah berkembang hingga menghasilkan polypropylene, polyethylene, poliested, dan sarung tangan medis.

Sri Prakash mulai mengembangkan usahanya di bidang properti dengan nama Indorama Real Estate dan telah mengukuhkan nama perusahaannya di Bursa Efek Thailand. Total kekayaan Raja Tekstil Indonesia ini mencapai USD 3.700 M, setara dengan 40,7 triliun rupiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *